Minggu, 11 Januari 2009

MENCARI LAILATUL QADAR ……ATAU ?

Lailatul qadar adalah malam segala kemuliaan, malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Jika pada malam itu kita melakukan kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kebajikan semisal dalam rentang waktu 83 tahun 4 bulan. Maka sangat tegas dalam hadits disebutkan orang yang terhalang dari kebaikan lailatul qadar atau kebaikan bulan Ramadhan ini sungguh-sungguh telah terhalang dari seluruh kebajikan. Maka amat merugilah orang yang keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak terampuni dosanya. Imam Bukhari dalam shahih-nya kitabul iman hadits ke 35 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,” Barang siapa menegakkan (sholat tarawih dan witir) pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Berbeda dengan hadits yang menerangkan puasa dan sholat tarawih dan witir yang menggunakan kata kerja lampau (fi’il madhi) man Shaama dan man qaama, dalam hadits tentang lailatul qadar ini menggunakan lafal kata kerja sekarang (fi’il mudhari) man yaqum. Ada rahasia apakah dibalik hal ini ? Imam Al Kirmani, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/123 mencoba mengungkap rahasia ini. Menurut beliau, karena qiyam dan shiyam Ramadhan itu sudah pasti terlaksana, siapapun bisa melaksanakannya maka dipakailah kata kerja lampau. Berbeda dengan lailatul qadar, tak sembarang orang mampu meraihnya. Juga tidak bisa dipastikan kapan waktunya. Bahkan dalam hal ini, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam 2/176, para ulama sampai berbeda pendapat sampai 40 pendapat dalam menentukan kapan waktunya, dan menurut catatan ulama inilah masalah yang paling banyak diperdebatkan oleh para fuqaha’. Tentunya kita tak perlu bersusah payah meneliti pendapat mereka, yang jelas menurut pendapat yang kuat berada pada sepuluh malam yang terakhir atau tujuh malam terakhir. Yang lebih jelas lagi, segera beramal sholih menggunakan setiap detik usia kita di bulan Ramadhan ini untuk kebaikan. Jangan lewatkan begitu saja tanpa membawa pahala. Jadi, memang betul-betul susah mencari lailatul qadar itu. Maka kita semua harus berusaha keras beramal sholih dan berdoa supaya dikarunia lailatul qadar. Bukankah dalam setahun hanya satu malam saja, itupun belum tentu mendapatkannya. Maka, kenapa masih bermalas-malasan ? Tentunya tidak akan diraih kecuali yang benar-benar ikhlas dan sejak awal Ramadhan memang beramal sebanyak mungkin, bukan oleh orang-orang yang mengejar pada malam-malam tertentu sementara pada sebagian malam lainnya tidak bersungguh-sungguh. Barangkali i’tikaf merupakan sarana terbaik untuk mengejar sang buruan ini. Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan orang yang mendapatkan lailatul qadar itu. Barangkali seakan dunia menjadi miliknya. Barangkali seakan sudah memiliki segala-galanya. Namun wahai saudaraku, tanpa mengecilkan keagungan lailatul qadar yang telah dinashkan oleh Al Qur’an dan As sunah Ash Shahihah ini…..maukah kami tunjukkan sesuatu yang lain dari ini semua ? Sesuatu yang datangnya juga dari Rasulullah, dan diperhatikan betul oleh shahabat-shahabatnya ? Lho. Memangnya ada yang lebih baik dari lailatul qadar ….? Ya…..tentu saja ada. Dari Abdullah bin Umar Radhyallahu ‘anhuma dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,”Maukah kalian aku beritahu dengan suatu malam yang lebih baik dari lailatul qadar ?” Itulah seorang yang hirasah (berjaga) di daerah yang ditakuti (musuh akan menyerang), karena barangkali ia tak akan kembali selama-lamanya kepada keluarganya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ar Rawiyani dalam musnadnya. Syaikh Muhammad Nashirudien Al Albani berkata,” Sanad ini shahih, para perawinya perawi yang tsiqat, mereka adalah para perawi Imam Bukhari kecuali Abdurahman bin ‘Aidz. Ia ini tsiqah sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya 2/80-81 dan Al Baihaqi adlam sunannya 9/149, serta Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib 2/154.” Wahai saudaraku….hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir dan Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah 6/739, no. 2811. Coba bayangkan wahai saudaraku…anda berjaga-jaga di Poso, Ambon, Maluku Utara, Afghanistan, Kasymir, Chechnya atau Moro….anda akan melewati hari-hari dan malam-malam yang indah, hari dan malam yang lebih baik dari lailatul qadar. Wahai saudaraku…..dalam setahun lailatul qadar hanya sekali saja, dan belum tentu kita mendapatkannya….apalagi jika kita banyak dosa dan kurang rajin melaksanakan ketaatan. Rasulullah menjanjikan..jika anda di medan ribath dan anda melakukan hirasah selama sebulan.…maka anda akan mendapati 30 malam yang lebih utama dari lailatul qadar…jika anda melakukan hirasah dan ribath satu tahun, anda akan mendapati seluruh hari dalam satu tahun, sekitar 354 hari (tahun hijriyah) yang lebih baik dari lailatul qadar. Jika anda hirasah satu hari, lima jam atau satu jam…anda akan tetap mendapati yang lebih baik dari lailatul qadar !!!! Satu jam saja ???? Ya, kenapa tidak…bukankah Rasulullah bersabda,” Tempat kedudukan seorang di jalan Allah lebih utama di sisi Allah dari ibadahnya seseorang selama 60 tahun.” [Al Hakim, shahih menurut syarat Imam Bukhari]. Belum lagi wahai saudaraku….kalau anda di medan ribath dan hirasah mendapati lailatul qadar---insya Allah---maka anda telah mengumpulkan dua kebaikan…Lantas apalagi yang membuat anda bimbang ? Masihkan janji beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam ini kita sia-siakan ? Tidakkah anda tergerak untuk ke arah itu..? Tidakkah anda tergerak untuk memberangkatkan orang ke arah itu …? Sampai kapan anda bermimpi Islam akan menang lewat demo-demo dan diskusi-diskusi serta pernyataan sikap yang selama ini kita kerjakan..? Dengan sekedar doa sekali dua yang kta panjatkan….? Sampai kapan ukhuwah kita beranjak dari kertas-kertas buku dan teori-teori di kepala yang kita sampaikan di mimbar-mimbar ke alam kenyataan….? Sampai kapan jihad fi sabilillah jalan kami terterjemahkan dalam realita kehidupan…? Saaudaraku…tak pernahkah kita mendengar dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata,” Rasulullah bersabda,” Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari saja di jalan Allah (jihad/perang melawan orang-orang kafir), kecuali pasti Allah akan menjauhkannya dengan puasa satu harinya itu wajahnya (dirinya) dari neraka sejauh 70 tahun.” [Muttafaq ‘Alaihi, lafal ini lafal Imam Muslim]. Saudaraku…tak pernahkah kita mengkaji bahwa seluruh ulama pensyarah hadits menyebutkan hadits puasa sehari fi sabili Allah ini dalam bab jihad, berperang di jalan Allah….Saudaraku, masihkah kita mengingkari kenyataan ini….masihkah kita berpura-pura yakin apa yang kita kerjakan hari nii adalah yang terbaik bagi Islam, bagi saudar-saudara kaum muslimin….???? Imam Ash Shan’ani berkata,” Rasulullah menggunakan kinayah (makna konotasi) selamatnya dirinya dari adzab neraka dengan sabda beliau,” kecuali pasti Allah akan menjauhkannya dengan puasa satu harinya itu wajahnya (dirinya) dari neraka sejauh 70 tahun” [Subulus Salam 2/167]. Saudaraku..ini baru shaum sehari di medan ribath dan jihad. Maka bagaimana jika anda mampu berada di sana dua, tiga, empat atau lebih hari dari hari-hari sisa di bulan Ramadhan ini ???? Saudaraku, jika anda mampu berangkat, kenapa masih lengket dengan bumi…??? Jika berhalangan dan hanya bisa memberangkatkan orang lain, kenapa tak anda berangkatkan orang lain…??? Saudaraku, tak pernahkan kita membaca surat dari sang kekasih; “ Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu….” [Al Anfaal : 24]. Saudaraku…tak pernahkah kita mengkaji ayat ini melalui kitab tafasir salafush sholih ? Tak pernahkah kita membaca perkataan Imam Al Wahidi yang disebutkan Imam Ibnu Qayyim dalam AL Fawaid-nya,” Dan mayoritas ulama menyatakan bahwa makna firman Allah “suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” adalah jihad, dan ini merupakan pendapat Ibnu Ishaq dan mayoritas ahlul ma’ani.” Lupakah atau tak tahukah kita wahai saudaraku….mengomentari perkataan Imam Al Wahidi dan juga Imam Al Fara’, Imam Ibnu Qayyim berkata,” Jihad adalah hal terbesar yang membawa mereka kepada kehidupan : kehidupan di dunia, kehidupan d ialam barzakh dan kehidupan di akhirat.” Tak tahukah kita wahai saaudaraku……Rasulullah ingin terbnuh sepuluh kali dalam jihad fi sabilillah…Tak tahukah kita wahai saudaraku…Imam Ibnu Taimiyah menegaskan kesepakatan ulama, ribath di perbatasan seperti perbatasan Syam dan Mesir lebih utama dari mujawarah ketiga masjid suci Islam…lebih baik dari beribadah dan tinggal di Masjidil Haram, Nabawi dan Aqsha…Beliau ditanya mana yang lebih utama : beribadah di ketiga masjid suci ini atau ribath di daerah perbatasan dengan daerah musuh. Jika kita masih ingat hadits-hadits seputar haji, maka kita masih akan mengerti bahwa sholat di masjidil Haram nilainya 100.000 kali sholat di masjid selainnya. Tahukah kita apa jawaban beliau terhadap pertanyaan ini …? Beliau menjawab,” Al hamdulillah, bahkan bertempat tinggal di daerah-daerah perbatasan umat Islam seperti daerah perbatasan Syam dan Mesir lebih utama dari mujawarah ketiga masjid (AL Haram, AN Nabawi dan AL Aqsa) ddan aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat ulama dalam maslaah ini. Lebih dari seorang ulama telah menegaskan hal ini, hal itu dikarenakan ribath termasuk jenis jihad sedang puncak dari mujawaaaarah adalah menjadi jenis haji, (sedang jihad lebih utama dari haji ) seperti difirmankan Allah,” Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” [At Taubah :19]. Beliau kemudian menyebutkan hadits-hadits tentang hal ini, al : “ Perang di jalan Allah lebih utama dari 70 kali haji.” [Majmauz Zawaid 5/281]. Dari Salman Al Farisi dari Nabi beliau bersabda,” Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari shaum satu bulan dan qiyam satu bulan dan barang siapa mati dalam keadaan ribath maka ia mati dalam keadaan berjihad dan dialirkan terus baginya rizki dari surga dan ia akan aman dari malaikat pembawa fitnah kubur (malaikat Munkar dan Nakir).” [HR. Muslim, kitabul Imarah Bab Fadhlu Ribath fi Sabilillah dan Majmauz Zawaid 5/290]. Dari Utsman dari Nabi beliau bersabda,” Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari 1000 hari di tempat lain.” [An Nasai, kitabul Jihad bab 39. Ad Darimi kitabul Jihad bab 31]. Wahai saudaraku….hadits-hadits shahih ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak hadits masalah tentang amalan ini. Mari kita menengok shahabat yang paling banyak menghafal sunah beliau, yang tentunya termasuk jajaran ulama shahabat dan tokoh hadits terkemuka di dunia ini. Itulah shahabat Abu Hurairah yang hidupnya habis untuk meniba sunah Rasulullah..dan berjihad…Beliau berkata,” Aku melaksanakan ribath satu malam di jalan Allah lebih aku cintai dari aku melaksanakan qiyam Ramadhan pada malam Lailatul Qadar di sisi Hajarul Aswad.” [lihat selengkapnya Majmu’ Fatawa 28/ dan Al Fatawa Al Kubra 3/531-532]. Wahai saudaraku… kebaikan apalagi yang kita harapkan. Jika anda mampu berangkat atau memberangkatkan orang lain….kenapa tak anda lakukan ??? Minimal anda berazam kuat dan berdoa, semoga kiranya suatu saat dikaruniai kesempatan indah dan agung ini. Selanjutnya wahai saudaraku….ingatlah, para ulama dengan tegas menyatakan fi sabilillah dalam ayat At Taubah yang menjadi salah satu dari delapan kelompok penerima zakat adalah para mujahidin dan kepentingan jihad. Ya, bukan selain itu, bukan membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya….Takutlah kepada Allah. Inilah pernyataan para ulama salaf yang konsisten dengan manhaj shahabah…. Inilah pendapat mayoritas ulama salaf dari kalangan mufasirin, muhaditsin dan fuqaha’ yang teguh di atas kebenaran, seperti Imam Thabari (Jamiul Bayan 14/320, tahqiq Ahmad Syakir), Al Qurthubi (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 9/185), Al Jashash (Ahkamul Qur’an 3/156), Ibnul ‘Arabi (Ahkamul Qur’an 1/396), As Suyuthi (Ad Durul Mantsur 3/252), Al Khazin (Lubabu Ta’wil FI Ma’ani Tanzil 3/92), Asy Syaukani (Fathul Qadir 2/373), Ibnu Hajar (Fathul Bari 3/259), Badrudien Al ‘Aini (Umdatul Qari 9/45), Abul Hasan Al Mubarakfuri dan Al Khothobi (Ma’alimu Sunah 2/234-235), Ibnu Atsir Al Jazari (An Nihayah fi Gharibil Hadits 2/245), Al Baruti (Al Hidayah Hamisyu Fathil Qadir 2/17-18), (Al Fatawa Al Hindiyah 1/188), Abul Barakat Ahmad Dardir (Asy Syarhul Kabir Hamisyu Hasyiyah Ad Dasuki 1/456), Asy Syafi’I (Al Ummu 2/60), An Nawawi (Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/211), Ibnu Qudamah (Al Mu’ni’ wa Hasyiyatuhu 1/249), dan Ibnu Hazm (Al Muhalla 6/151). Karena itu, majlis haiah kibaril ulama Arab Saudi yang terdiri dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Shalih bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Ghadyan dan Syaikh Abdurazaq Afifi dalam rapatnya tanggal 21 Sya’ban 1394 H di Thaif memutuskan keputusan no. 2 tertanggal 21/8/1394 H bahwa makna fi sabilillah dalam ayat penerima zakat ini adalah ghuzat f sabilillah (para mujahidin yang berperang di jalan Allah). [Majalatul Buhuts Al Ilmiyah edisi 2, Syawal-Rabiul Awal 1395/1396 H]. Adapun mereka ---ustad, kyiai, ualma, ajengan, syaikh dan doctor--- yang mencoba merubah dan membelokkannya untuk membangun masjid, ma’had, madrasah, jalan raya, jembatan, gaji ustadz, dakwah atau kepentingan lainnya…atau bahkan memutarnya untuk usaha, emmbangun ekonomi umat….maka takutlah kepada Allah…..takutlah kepada Allah….takutlah kepada Allah….anda telah menahan harta Allah yang seharusnya dipergunakan untuk meninggikan kalimat Allah, anda menggunakannya untuk menghancurkan Islam….Naudzu Billahi. Bagaimana tidak, bagian zakat fi sabilillah anda tahan, anda pergunakan tidak pada tempatnya dengan berlandaskan pada pemahaman anda yang ”lebih benar dan lebih luas” dari pemahaman salafush sholih ??? berlandaskan pada pendapat anda dan sebagian ulama zaman ini yang “tidak picik”, yang “lebih pandai” dari salafus sholih ???” maka mujahidin Poso, Ambon, Maluku Utara, Moro, Kasymir, Chechnya, Palestina, Afghanistan dan ardhul jihad lainnya tak mendapatkan amunisi, logistik, senjata… padahal dunia berkumpul untuk menghancurkan mereka, untuk menenggelamkan Islam ke dasar samudra,….maka tidakkah anda takut kepada Allah ???. Doktor macam apakah, ulama macam apakah….yang lebih pandai dari para mufasirin dan fuqaha’ salaf ???? Apakah pemahaman mereka lebih baik…lebih benar dan lebih diridhoi Allah melebihi pemahaman salaf ??? Kenapa bagian zakat fi sabilillah diberikan untuk membangun masjid, madrasah, jalan raya, yayasan Islam,dst….kenapa tidak sekalian saja diberikan kepada orang yang sholat, membaca Al Qur’an, berdzikir, shoum, dan seterusnya…bukankah semuanya sama-sama mencari ridha Allah. Inilah bukti kerusakan pemahaman mereka yang melenceng dari pemahaman salafush sholih…Wahai saudara muslimin….renungkanlah…telah lama kita berada dalam kesesatan…kehinaan…jauh dari tuntunan shahabat dan Rasulullah….jika anda belum mampu mengerjakan naasehat ini, minimal niat, minimal niat ikhlash dan kesungguhan anda akan dinilai Allah. Maka camkanlah baik-baik nasehat saudara muslim ini, semoga anda dan sebarkanlah kepada kaum muslimin, semoga kita semua berada di atas jalan petunjuk Allah. Wallahu A’lam bish Shawab.

Tidak ada komentar: