Minggu, 11 Januari 2009

DO’A, Satu - Satunya Senjata Yang Di Impor Dari Langit

Dalam eskpedisi jihad, suatu ketika Qutaibah bin Muslim mengumpulkan para tokoh untuk konsolidasi, namun beliau kehilangan satu di antara mereka yakni Muhammad bin Waasi’, beliau memerintahkan salah seorang pasukannya untuk mencari beliau. Ternyata di dapatkan bahwa beliau sedang mengangkat tangannya untuk berdo’a. Hal itu dilaporkan kepada Qutaibah bin Muslim. Beliau berkata: Biarkanlah ia demi Allah Muhammad bin Waasi’ itu lebih aku sukai dari pada seribu bila pedang pilihan yang dipegang oleh seribu orang jagoan.

Diriwayatkan oleh muslim bahwa ada tiga orang yang terjebak di dalam gua dan akhirnya hanya dapat selamat dengan do’a. Kita pernah pula mendengar bahwa Imam Ahmad mendo’akan seorang ibu yang lumpuh. Seketika ibu tersebut sembuh dari sakitnya. Kisah tentang betapa ampuhnya do’a tersebut amat banyak kita dapatkan pada masa salaf. Bahkan sahabat Sa’ad bin Abi waqosh tidak pernah tertolak do’anya.

Namun hari ini, betapa kita kehilangan keampuhan do’a yang merupakan senjata bagi orang mukmin. Bukan berarti do’a sudah tidak layak lagi untuk diterapkan pada abad modern ini, bukan pula karena Allah tidak sudi lagi mengkabulkan do’a hambanya, namun keampuan tersebut lenyap karena adanya penghalang yang dilakukan oleh manusia sendiri. Karena mereka melanggar aturan yang telah di gariskan oleh Allah yang menyebabkan terhalangnya do’a Pelanggaran tersebut berupa makan minum dan memakai sesuatu dari yang haram.

Di abad milinium ini, tak terbilang lagi banyaknya jenisnya makanan, minuman pakaian ataupun kosmetika yang muncul dengan berbagai kemasan dan merk. Ironisnya kaum muslimin tidak selektif dalam memilah dan memilih barang-barang yang mereka konsumsi di samping minimnya pengetahuan mereka tentang jenis barang-barang yang haram. Barangkali inilah masa yang di janjikan oleh Rosululloh:

“Akan ada di antara umatku yang memakan beraneka ragam makanan dan minuman, berpakaian dengan segala macam jenis pakaian dan asal bicara, mereka itulah seburuk buruk ummatku.” ( HR Thobroni )

Akibat buruk dari barang barang haram tersebut amat banyak namun kalau saja tidak ada akibat lain dari mengkosumsi barang haram selain terhalangnya do’a, maka ini adalah mala petaka yang besar karena orang orang yang telah kehilangan keampuhan do’anya berarti dia telah kehilangan senjata yang paling ampuh untuk meraih cita-citanya. Ibnul Qoyyim berkata: "Do’a merupakan sarana yang paling ampuh untuk mendapatkan sesuatu yang dicari dan menolak sesuatu yang di benci."

KEUTAMAAN BERDO’A

Allah Ta’ala berfirman:

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” ( QS Al Mu’min: 60 )

[1326] yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.

"Dan apabila hamba hamba KU bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah,bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS Al Baqoroh: 186 )

Nabi bersabda:

ألدعاء هو العبادة قال ربكم أدعوني أستجب لكم

"Do’a adalah ibadah. Rob kalian telah berfirman: Berdo’ala kepada-Ku niscaya Akan Ku perkenankan bagimu." (Abu dawud 2/ 78, At Tirmidzi 5/ 211, Ibnu Majah 2/ 1258)

Nabi juga bersabda:

إن ربكم تبارك وتعالى حيي كريم يستحيي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يرد هما صفرا .

"Sungguh, Rob kalian Maha pemalu dan pemurah. Ia malu kepada hambaNya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, jika Ia mengembalikan kedua tangannya itu dalam keadaan kosong ( tidak di kabulkan Doanya )"

( HR Abu dawud 2/ 78, At Tirmidzi 5/ 557, Ibnu Majah 2/ 1271 Ibnu hajar mengomentari: sanadnya jayyid )

Nabi juga bersabda:

ما من مسلم يدعوا الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر

"Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan permintaan yang di dalamnya tidak terdapat dosa atau permutusan silatr rohim kecuali Allah pasti memberikan kepadanya, karena do’a itu sala satu dari tiga Hal: Bisa jadi Allah segera mengabulkan do’anya itu, atau Dia menyimpan do’a untuknya di akherat atau Dia menghindarkannya dari keburukan yang sebanding dengan do’anya Para sahabat berkata: jika demikian kami akan memperbanyak do’a. Beliau bersabda: Allah lebih banyak lagi pemberiannya."

( HR At Tirmidzi 5/ 566, dan 5/ 462, Ahmad 3/ 18 )

ADAB ADAB BERDO’A DAN SEBAB SEBAB DI KABULKANNYA DO’A

1. Keikhlasan kepada Allah.

2. Memulai do’a dengan membaca hamdalah dan sholawat Nabi, juga mengakhirinya dengan itu.

عن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال: سمع رسول الله صلى الله عليه وسملم رجلا يدعو في صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبى فقال رسول الله: ((عجل هذا ثم دعاه فقال له أو لغيره: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميدربه سبحانه والثناء عليه ثم يصلى على النبى ثم يدعو بعد بما شاء (رواه الترميذى حديث حسن صحيح )

Dari fadholah bin ubaid: Rosululloh SAW mendengar seorang laki laki berdo’a dalam sholatnya yang tidak memuji Allah Ta’ala dan tidak bersholawat atas Rosul, maka Rosululloh SAW bersabda:

3. Sungguh-sungguh dalam berdo’a dan yakin akan dikabulkan.

4. Banyak mengulang do’a dan tidak tergesa gesa untuk dikabulkan.

5. Kehadiran hati sewaktu berdo’a.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسملم: (( ادعو الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله تعالى لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه ( رواه الترميذى اسناده ضعيف )

“Dari Abi Huroiroh ra ia berkata: Rosululloh SAW bersabda: "berdo’alah kepada Allah dan kamu yakin do’amu akan di kabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai” ( HR Tirmidzi sanadnya lemah )

6. Berdo’a baik dalam keadaan lapang maupun berat.

7. Hanya berdo’a kepada Allah semata-mata.

8. Tidak berdo’a untuk kejelekan, keluarga, harta, anak dan diri sendiri.

9. Merendahkan suara dalam berdo’a, tidak terlalu pelan dan tidak terlalu keras.

10. Mengakui dosa dan beristighfar ( memintak ampunan ) kepada Allah. Mengakui nikmat dan bersyukur kepada Allah terhadap nikmat-NYa.

11. Tidak perlu membuat kalimat bersajak didalam berdo’a.

12. Rendah hati, khusyu’, di sertai perasaan berharap dan takut.

13. Mengembalikan apa saja yang diperoleh secara Dzalim, diiringi dengan taubat.

14. Berdo’a tiga kali.

عن ابن مسعود رضي الله عنه: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسملم كان يعجبه أن يدعو ثلاثا ويستغفر ثلاثا ( رواه أبو داود )

“Dari ibnu mas’ud: bahwasanya Rosululloh suka berdo’a tiga kali dan beristighfar tiga kali.” ( HR Abu dawud )

15. Menghadap kiblat.

16. Mengangkat tangan ketika berdo’a.

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسملم إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه. ( رواه الترميذى قال إنه حديث صحيح )

“Dari Umar bin Khotthob ra ia berkata: Rosululloh SAW jika berdo’a mengangkat kedua tangannya dan tidak menurunkan kedua tangannya sanpai beliau mengusapkannya kewajahnya.” ( HR Tirmidzi ia berkata: Sesungguhnya ini adalah hadits yang shohih )

17. Berwudhu sebelum berdo’a, apabila bisa dilakukan dengan mudah.

18. Jangan sampai berlebih-lebihan dalam berdo’a.

19. Hendaklah memulai berdo’a untuk diri sendiri, apabila hendak mendo’akan orang lain.

“Ya Allah Robb kami beri ampunlah aku dan kedua bapakku dan sekalian orang orang mukmin pada hari terjadinya hisab “ ( QS Ibrohim: 41 )

“ Ya Robku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang orang yang beriman laki laki dan perempuan “ ( QS Nuh: 28 )

20. Bertawasul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat sifat-Nya Yang Maha Tinggi dengan amal sholih yang pernah dilakukan, atau dengan perantaraan do’a orang sholih yang masih hidup dan berada di hadapannya.

21. Hendaklah makanan dan pakaian orang yang berdo’a itu halal.

22. Tidak berdo’a, memintak sesuatu yang mengandung dosa atau permutusan hubungan silaturrohim

ما من مسلم يدعوا الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر

"Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan permintaan yang di dalamnya tidak terdapat dosa atau permutusan silaturrohim kecuali Allah pasti memberikan kepadanya, karena do’a itu sala satu dari tiga Hal: Bisa jadi Allah segera mengabulkan do’anya itu, atau Dia menyimpan do’a untuknya di akherat atau Dia menghindarkannya dari keburukan yang sebanding dengan do’anya Para sahabat berkata: jika demikian kami akan memperbanyak do’a. Beliau bersabda: Allah lebih banyak lagi pemberiannya."

( HR At Tirmidzi 5/ 566, dan 5/ 462, Ahmad 3/ 18 )

23. Hendaklah melakukan amar ma’ruf & nahi munkar.

24. Menjauhkan diri dari seluruh perbuatan maksiat.

WAKTU WAKTU, KEADAAN KEADAAN DAN TEMPAT TEMPAT DI KABULKANNYA DO’A

1. Pada malam lailatul qodar

عن عائشة رضي الله عنها قالت: (( قلت يا رسول الله إن علمت ليلة القدر ما أقول فيها: قال لي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني . ( قال الترميذى حديث حسن صحيح )

“Dari ‘Aisyah ra ia berkata: Saya berkata kepada Rosulalloh SAW, Wahai Rosululloh, jika aku mengetahui malam lailatul qodar apa yang harus aku katakan, beliau bersabda: Katakanlah Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau suka mengampuni maka ampunilah aku.” ( Tirmidzi berkata: ini hadits hasan shohih )

2. Pada akhir malam dan seusai sholat sholat wajib.

3. Antara adzan dan iqomah.

الدعوة لا ترد بين الأذن والإقامة فادعو ( رواه أحمد )

“Do’a antara adzan dan iqomah itu tidak di tolak maka berdo’alah.” ( HR Ahmad )

4. Pada saat tertentu di setiap malam.

5. Ketika dikumandangkan adzan untuk melaksanakan sholat sholat wajib.

6. Ketika turunnya hujan.

7. Ketika pasukan bergerak untuk berperang di jalan Allah.

( Surat Al Anfal: 45 – 47 )

8. Pada saat tertentu, di hari jum’at.

9. ketika meminum air zam zam, dengan niat yang tulus.

10. Pada waktu sujud.

11. Pada waktu terbangun di malam hari, dengan do’a yang ma’tsur ( terdapat riwayatnya dari nabi ) mengenai saat itu.

12. Apabila seseorang tidur dalam keadaan bersuci, kemudian terbangun di waktu malam dan berdo’a.

13. Ketika berdo’a:

لاإله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين

“Tiada ilah selain Engkau Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang orang yang dzalim.”

14. Do’a orang lain, setelah wafatnya mayit.

15. Do’a yang di lakukan setelah memuji Allah dan membaca sholawat Nabi di dalam tasyahud akhir.

16. Ketika berdo’a kepada Allah dengan “Nama-Nya Yang Agung “, yang apabila digunakan untuk berdo’a kepada-Nya Dia pasti mengabulkan, dan apabila digunakan untuk memohon kepadanya Dia pasti memberi.

17. Do’a seorang muslim untuk saudara muslimnya, dari kejauhan.

18. Do’a pada hari Arofah, di padang Arofah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسملم: خير الدعاء يوم العرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي, لا إله إلا الله وحدهل لاشريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير. حديث حسن

“Rosululloh SAW bersabda: Sebaik baik do’a pada hari ‘Arofah, dan sebaik baik yang aku katakan dan yang di katakan para Nabi sebelumku adalah kalimat: Tidak ada ilah kecuali Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan kepunyaa-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( Hadits Hasan )

19. Do’a pada bulan Romadhon.

20. Pada saat kaum muslimin berkumpul di dalam majlis majlis dzikir.

21. Pada saat mengucapkan do’a, ketika tertimpa musibah dengan:

إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم اجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali, Ya Allah, berilah aku di dalam musibahku, dan berilah aku pengganti yang lebih baik darinya.”

22. Do’a yang diucapkan dengan sepenuh hati dan benar benar ikhlas kepada Allah.

23. Do’a yang dianiaya kepada yang menganiaya.

24. Do’a orang tua untuk kebaikan anaknya atau untuk keburukannya.

25. Do’a orang yang sedang musafir ( bepergian ).

26. Do’a orang yang sedang berpuasa, selama ia belum berbuka.

27. Do’a orang yang berpuasa, ketika ia berbuka.

28. Do’a yang dilakukan oleh orang yang dalam keadaan terjepit.

29. Do’a yang diucapkan oleh imam yang adil.

30. Do’a anak yang berbakti, untuk kedua orang tuanya.

31. Do’a yang diucapkan setelah wudlu, apabila seseorang berdo’a dengan do’a doa yang ma’tsur.

32. Do’a setelah melempar jumroh As Sughroh.

33. Do’a setelah melempar jumroh wustho.

34. Do’a yang diucapkan di dalam ka’bah dan yang di ucapkan oleh orang orang yang melakukan sholat di Hijir Ismail, karena ia termasuk Baitul Haram.

35. Do’a yang diucapkan di bukit Shofa.

36. Do’a yang diucapkan di Marwah.

37. Do’a yang diucapkan di Masy’aril haram. (Masy’aril haram adalah bukit quza di muzdalfah).

38. Seorang mukmin senantiasa berdo’a kepada robnya di manapun ia berada.

"Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

( QS Al Baqoroh: 186 )

Hanya saja waktu waktu dan keadaan keadaan dan tempat tempat yang telah tersebut di atas, hendaklah lebih mendapatkan perhatian.

PENGHALANG UTAMA DO’A

عن أبي هريرة –رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا ،وان الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين ..فقال تعالى " يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا... " المؤمنون /51... وقال الله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُم ..." البقرة/172 ... ثم ذكر رجل يطيل السفر أشعث اغبر يمد يده إلى السماء يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسة حرام وغذي بالحرام فإنى يستجاب له

“Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, Dan Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang orang mukmin sebagaimana yang di perintahkan kepada para Rosul,maka Allah berfirman: Wahai para Rosul, makanlah dari apa apa yang baik, dan beramallah kalian dengan amal yang sholih. Dan Allah berfirman: Hai orang orang yang beriman, makanlah dari apa apa yang baik yang aku rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau meyebutkan tentang seorang laki laki yang telah jauh perjalanannya, berambut kusut lagi berdebu dia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdo’a, Ya Rob… Ya Rob…sedangkan ia makan dari yang haram, minum dari yang haram, berpakaian dari yang haram, dan tumbuh dari yang haram, bagaimana mungkin akan terkabul do’anya?”

Hadits ini mengisyaratkan kepada kita tentang adab dan waktu yang tepat untuk berdo’a sekaligus untuk menjelaskan tentang factor utama yang menghalangi terkabulnya do’a. beliau menyebutkan dalam hadits tersebut bahwa termasuk sebab dikabulkannya do’a:

1. Safar ke tempat yang jauh. Ketika seseorang sedang melakukan safar dia memiliki kesempatan yang baik untuk berdo’a, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh ra bahwa Rosululloh SAW bersabda: “ Tiga macam do’a yang tidak di ragukan lagi akan di kabulkan, yakni do’anya orang yang sedang didzalimi, do’a orang yang sedang safar, dan do’a kedua orang tua untuk anaknya." (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah )

2. Kusut masai dan berdebu lantaran safar, keadaan ini juga menjadi sebab terkabulnya do’a sebagaimana hadits yang masyhur: “Sering kali orang yang kusut masai dan berdebu mengenakan pakaian yang lusuh sehingga di tolak manusia ketika mengetuk pintu, padahal seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya akan Allah kabulkan “

3. Menengadahkan kedua tangannya ke langit. Hal ini merupakan sebab yang agung terkabulnya suatu do’a. Rosululloh bersabda: “SesungguhnyaAllah Maha Hidup lagi Maha Pemurah, Dia malu apabila seorang hamba menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya lalu menurunkan tangan dalam keadaan hampa.“ ( HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah )

4. Merendahkan diri kepada Allah seraya menyebut Rububiyah Allah. Ini adalah factor yang paling utama terkabulnya do’a. Al bazzar meriwayatkan dari ummul mukminin ‘Aisyah secara marfu’:

إذا قال العبد يا رب أربعا قال الله لبيك عبدي سل تعطه

“ Apabila seorang hamba menyeru Ya Rob.. Ya Rob.. Ya Rob..Ya Rob.. Maka Allah berfirman: Labbaik wahai hamba-Ku mohonlah niscaya engkau akan di beri”

Barang siapa yang memperhatikan do’a-do’a yang terdapat dalam Al Qur’an niscaya akan mendapatkan betapa banyak do’a yang di awali dengan kata; Robbana ..” Wahai Robku.. seperti Robbana atina … Robbna hablana …Robbana ighfirlana.. Robbana laa tuakhidhna.. dan sebagainya.

Akan tetapi kendatipun sesorang berada dalam kesempatan dan saat yang paling tepat untuk berdo’a, juga menekuni adab-adab pada saat berdo’a sebagaimana telah dipaparkan diatas, dikatakan oleh Nabi: Faanna yustajaabu lahu? Maka bagaimana mungkin akan dikabulkan do’anya ? yang demikian itu karena dia melakukan perbuatan yang menghalangi terkabulnya do’a yakni makan, minum, dan berpakaian dari yang haram. Lantas bagaimana halnya dengan orang yang tidak menekuni adab dalam berdo’a sedangkan dia enjoy dengan barang-barang yang haram? tentu lebih jauh lagi kemungkinan terkabul do’anya.

Dapat pula kita ambil kesimpulan dari hadits diatas bahwa menghindarkan diri dari barang barang yang haram adalah merupakan factor utama dikabulkannya do’a. Ikrimah bin Amar meriwayatkan dari Al Ashfar bahwa suatu ketika ada sesorang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqosh: "Wahai Sa’ad dengan sebab apa anda dikenal sebagai orang yang makbul do’anya? Beliau menjawab: "Tiada aku mengangkat satu suap makananpun ke dalam mulutku melainkan aku mengetahui dari mana asal makanan tersebut.

Jika meninggalkan perkara perkara yang haram merupakan factor utama terkabulnya do’a, demikian pula dengan mengerjakan amal-amal sholih, inipun merupakan sebab bagi terkabulnya suatu do’a. Karena itulah Wahab bin Munabbih berkata:

“Orang yang berdo’a tanpa beramal sholih ibarat memanah tanpa tali busur.”

Akhirnya marilah kita bermuhasabah terhadap apa yang telah kita kerjakan, betapa kerapnya do’a kita panjatkan kepada Allah, betapa seringnya kita mendengarkan Istighitsah Kubro digelar, namun mengapa bangsa ini belum juga mentas dari multi krisis yang menerpa? Apakah hal ini disebabkan akrabnya masyarakat kita dengan barang-barang yang haram maupun yang syubhat. Ataukah mereka hanya berdo’a namun dalam waktu yang bersamaan menentang hukum-hukum Allah dan tidak mau tunduk dengan aturan aturan-Nya?

Ya Allah kabulkanlah do’a kami, sesungguhnya Engkau Maha mengabulkan do’a.

Tidak ada komentar: